Lima Tahun
Lima tahun mungkin jeda yang terlalu lama dari keasikan menulis. Bohong jika aku bilang aku menggunakan platform lain yang lebih seru. Nyatanya, keasikan menulis yang luntur. Tergantikan oleh kesibukan lain. Atau mungkin lebih tepat disebut distraksi?
Kurasi 5 tahun yang tak tertulis berisi lebih banyak refleksi dibandingkan jalan-jalan seru. Dua hari lagi genap 5 tahun pernikahan kami. Tiada hari tanpa rasa syukur Allah Telah Mempertemukan aku dengan suamiku. Yang bersamanya, kelezatan waktu terasa nikmat, lelah singkat menguap, dan yang paling utama bagaimana rasa kesendirian itu memudar. Bukan karena orangnya, karena rasa syukur yang tumbuh dari melihatnya.
Pagi ini kulihat lagi anak laki-laki mungil yang dalam hitungan hari berusia 8 bulan yang tidur di sebelahku. Lima tahun yang berisikan doa dan harapan, Allah jawab satu per satu di waktu yang tepat. Salah satunya, bayi menggemaskan ini. Allah telah Memberikan waktu untuk menyembuhkan hati yang sakit, membersihkan kebisingan dalam pikiran. Kemudian Menganugerahkan hadiah dengan segala kebaikan yang dibawanya.
Dalam 5 tahun, Allah Buka lagi dua pintu surga yang bisa aku ketuk: menjadi istri dan ibu.
Aku berdoa dan berharap penjagaan Allah untuk aku dan keluargaku.

Comments
Post a Comment