Saturday, April 29, 2017

Pengalaman IELTS: belajar otodidak sampai tes

Untuk teman-teman yang punya rencana untuk melanjutkan studi di luar negeri, IELTS dan TOEFL bukan lagi hal yang asing. Ya, skor dari salah satu tes tersebut menjadi syarat utama kebanyakan universitas dan beasiswa studi di luar negei. 

Sepulang dari Italia tahun lalu, saya berencana untuk segera menyelesaikan skripsi dan lulus paling lama Agustus 2017. Layaknya mahasiswa tahun akhir, saya juga diliputi rasa bimbang apakah ingin lanjut sekolah atau kerja setelah lulus nanti. Sewaktu di Italia, saya banyak bertemu orang-orang yang lebih dewasa dan memberikan saran untuk kehidupan setelah lulus. Saya sendiri juga mengamati kehidupan perkuliahan Master di Eropa, dari sisi materi perkuliahan, mahasiswa, lingkungan, dan sebagainya. Sehingga, saya cenderung ingin lanjut sekolah dulu sebelum benar-benar meniti karir. Dan hal tersebut alhamdulillah diamini oleh orang tua, terutama mama yang sangat pro saya lanjut kuliah saja.

Dua hal yang saya targetkan untuk rencana kuliah saya: saya langsung lanjut kuliah setelah lulus (Tahun Ajaran 2017/2018) dan kuliah di luar negeri. Nah, untuk tercapainya kedua hal tersebut berarti saya harus gencar mempersiapkan aplikasi, mulai dari nyari universitas, program master, beasiswa, persyarata, bla bla bla. Saat itu saya belum punya sertifikat IELTS atau TOEFL yang masih berlaku yang berarti saya juga harus belajar untuk tes. Saya sudah berencana untuk belajar IELTS dari bulan Agustus 2016, tapi memang butuh trigger untuk benar-benar merealisasikan rencana. Karena akhirnya saya baru mulai belajar di bulan Oktober :v 

Kenapa IELTS dan bukan TOEFL?

Memang kedua skor ini berlaku di banyak universitas di seluruh dunia. Akan tetapi, basis IELTS adalah British  English (BE) dan TOEFL adalah American English (AE). Walaupun sebenarnya saya lebih terbiasa dengan AE daripada BE dan katanya tes TOEFL iBT lebih murah daripada IELTS (sekitar Rp 2,5jt vs Rp 2,8jt), saya punya alasan sendiri. 

Thursday, February 9, 2017

Marshmallow

Berbeda dengan abang saya yang pernah melihara berbagai macam hewan, sebut saja kucing, ayam kampung, ayam teletubbies, ikan cupang, ikan mas, siput, dan lain-lain, saya tidak pernah punya binatang peliharaan. Saya bukan pecinta binatang, termasuk kucing. Kalo nanya mama saya, dia akan bilang selera makan saya langsung hilang kalau tiba-tiba ada kucing yang mendekat. Dan itu benar.

Saya bukan benci, hanya tidak biasa. Ketidakbiasaan itu sedikit demi sedikit luntur karena berteman baik dengan manusia-manusia yang freak pada kucing dan aktivitasnya, sebut saja Yusra, Maya, dan Rifqi. Saya jadi mulai berani elus-elus punggung, kepala, dan leher. Tidak lebih dari itu.

Rifqi dan saya dari dulu memang punya rencana memelihara kucing, dengan hak asuh 100% berada pada Rifqi. Intinya, saya belum siap pelihara-peliharaan. Lalu mulailah Rifqi menjejal foto, video, stiker (dan apapun itu) berbau kucing dan anak kucing, yang harus saya akui super lucu dan susah untuk berpaling, kapan pun dan di mana pun.

Keinginan untuk pelihara kucing pun muncul kalo melihat postingan orang nawarin anak-anak kucing, baik yang ditemukan atau baru dilahirkan. Beberapa kali terlambat (sudah dikasih ke orang lain), 2 hari yang lalu (7/2) Rifqi dikabari temannya kalo ada yang menawarkan anak kucing yang ditemukan dan kehilangan induk dan saudaranya. Setelah membahas bersama, kami sepakat untuk mengadopsinya.

Saya super excited. Saya langsung menyiapkan kardus untuk membawa kucingnya pulang nanti sore. Saya juga research kecil-kecilan, meng-google apa saja keperluan memelihara kucing, makanannya, mainannya, tempat buang hajatnya, dan sebagainya. Maklum, pemula.

Sorenya, setelah beli beberapa keperluan yang penting, kami pun menjemput si kucing. Selama perjalanan di motor, kami diskusi soal nama. Rencananya, kalo jantan mau dikasih nama "Saitama", kayak tokoh utama One Punch Man yang Season 1-nya baru kami selesaikan bersama beberapa hari sebelumnya. Kalau betina, belum kepikiran. Sebenarnya saya usul kalo betina namanya "Bella", kalo jantan namanya "Bello", yang artinya cantik dalam bahasa Italia. Tapi Rifqi sepertinnya kurang setuju.

Saya tidak menyangka kucing yang akan kami adopsi masih begitu kecil. Umurnya mungkin sekitar 2-3 minggu. Warnanya putih, dengan sedikit belang oranye di kepala. Ternyata si penemu kucing tidak bisa memeliharanya karena dia memelihara anjing juga, yang mungkin agak galak karena sewaktu kami datang anjingnya menggonggong dan si kucing keliharan ketakutan dan manjat-manjat baju masnya. Kucingnya pun kami masukkan ke kotak yang udah dibolongin. Kebetulan kotaknya adalah kotak bekas oleh-oleh yang ada talinya, jadi kotaknya bisa diikat dan saya tidak terlalu kerepotan menahan tutupnya supaya kucingnya tidak loncat keluar dari kotak. Selama perjalanan si kucing tidak berhenti mengeong imut dan nyakar-nyakar saya dari lobang di kotak. Saya beberapa kali teriak kecil karena kaget, yang langsung dilirik Rifqi dengan tatapan "jangan bikin malu".

Sesampainya di rumah Rifqi, kami pun langsung bermain-main dengan si kucing: Rifqi dan kucing main-main, saya ketawa-ketawa. Si kucing pun langsung kami kasih makan. Dia sukanya makanan basah, mungkin belum bisa mengunyah makanan yang kering. Badannya kurus banget, tulangnya langsung terasa sewaktu mengelus lehernya, rusuknya kelihatan kalo dia lagi berbaring. Dan Rifqi pun berbinar-binar berkata,"pokoknya kita harus bikin dia gemuk.". Aku pun membalas,"Kayak Nala?". "Iya, pokoknya gemuk," jawabnya.

Selagi bermain, Rifqi bilang dia ingin menamainya Marshmallow, karena bulunya yang putih. Saya setuju saja walaupun saya sempat usul nama "Python" atau "Sayang". Rifqi cuma geleng-geleng tak berkata tapi seolah-olah bilang, "Ntahapa aja kau dek" (pakai logat Medan). Karena sudah sepakat, Rifqi mulai bermain-main sambil manggil-manggil si kucing, "Mellow, sini". Saya diam sebentar karena heran, lalu berkata,"Kirain panggilannnya, Marsh."

Sore itu rasanya lama sekali, padahal cuma 2 jam saya bermain-main dengan Marshmallow sebelum pulang. Hari itu saya harus bangga karena di tahun 2017 akhirnya saya berani diendus-endus kucing, menyentuh tapak kakinya yang kenyal, dan tidak memberontak saat dia berjalan ke pangkuan. Dia ternyata suka pangkuan manusia untuk tempat tidur dan menolak tidur di kardus. Dia imut sekali dan saya langsung merasa sayang pada kucing itu.

Malamnya, saya chatting dengan Rifqi menanyakan kabar si Marshmallow. Katanya dia sudah makan dan buang air di litter box. Malam itu, dia harus tidur di gudang belakang karena tidak mungkin membiarkannya di luar, takut masuk ke got. Rifqi juga tidak berani membawanya ke kamar, takut buang air sembarangan. Sebenarnya saya sedikit khawatir karena gudangnya agak berdebu dan sangat banyak barang, takutnya dia manjat dan lompat dari tempat yang terlalu tinggi untuknya. Tapi sepertinya dia belum bisa memanjat, dan di sana tempat yang paling aman untuk sementara.

Hari itu saya melabelkan diri saya dengan label "punya peliharaan"... hehehe :3

Besok paginya, saya datang lagi ke rumah Rifqi karena kami berencana membawa Marshmallow ke dokter untuk konsultasi. Rifqi bilang dia sudah makan dan sudah buang air lagi di glitter box-nya tanpa diangkat. Pintar! Tetapi dia tidak sesemangat hari sebelumnya. Jalannya agak sempoyongan. Saya curiga dia tidak bisa tidur sepanjang malam karena tidak ada yang memeluk. Sewaktu melihat saya duduk, dia mendekat dengan kaki gemetaran, mengendus-endus, manjat ke pangkuan saya, nyempil-nyempil di antar lengan sambil mencakar-cakar baju saya, dan akhirnya bisa diam ketika saya elus leher dan kepalanya. Dia tertidur di pangkuan saya. Nyenyak. Saya pindahkan dia ke kardus. Dia terbangun dan mendekati saya lagi. Akhirnya selagi menunggu Rifqi bersiap-siap, saya biarkan dia tidur di paha saya sambil saya elus-elus kepalanya. Saar tidur, baru kelihatan kalau kutunya banyak sekali. Kasihan.

Marshmallow kami masukkan lagi ke kotak untuk dibawa ke dokter. Awalnya dia sempat mengeong pelan dan mengeluarkan tangannya melalui lubang, tapi lama-kelamaan dia diam saja. Saat itu cuaca terik, mungkin dia merasa hangat dan nyaman di dalam kotak. Saya kira dia tidur.

Kami menuju Klinik Hewan Kuningan milik FKH UGM yang berlokasi di depan kolam renang FIK UNY. Klinik ini terkenal ekonomis karena memang penanganan dilakukan oleh mahasiswa koas di bawah bimbingan dokter hewan. Untuk konsultasi waktu itu kami tidak dikenai biaya.

Marshmallow lalu ditimbang berat badannya (ternyata cuma 0,3 kg) kemudian diperiksa denyut jantung, kulit, dan lain-lain. Terkadang dia sedikit memberontak dan agak galak. Jadi berasa bawa anak sendiri ke dokter :" Karena hari itu tujuannya hanya konsultasi, tidak ada diagnosa tertentu. Dia hanya dikasih vitamin untuk mengurangi kutu dan dianjurkan dikasih minum susu karena masih sangat kecil. Jadi pulangnya kami pun mampir beli susu kucing.

Sampai di rumah Rifqi, Mallow masih kelihatan tidak semangat. Setelah diberi makan dan diminumkan susu, kami biarkan dia tetap dalam kotak supaya tidur. Dan juga karena kami sudah menghabiskan setengah hari untuknya dan perlu mengerjakan hal lain pula. Saya pun pulang ke kosan.

Malamnya, Rifqi bolak balik mengabari Mallow tidak selera makan dan kelihatan makin lemas. Mungkin sebaiknya besoknya perlu dibawa ke dokter lagi. Tidak tahu masalahnya apa, mungkin juga kedinginan. Lalu Rifqi tambahkan kain di kotaknya supaya lebih hangat. Malam itu, Mallow dan kotaknya ditaruh di kamar Rifqi.

Besok paginya, Mallow sudah tak sadarkan diri. Saya panik langsung menuju rumah Rifqi. Di sana Rifqi sudah termenung menatap Mallow. Katanya dia sudah terlihat tidak bernafas. Tapi saya coba raba perutnya masih bergetar dan sesekali ia bergerak. Tapi kelihatan sekali dia tidak sekedar tidur seperti biasa. Badannya dingin. Saya usul ke Rifqi untuk segera ke klinik lagi saat itu juga.

Sampai di klinik, Mallow langsung mendapat pertolongan pertama dengan diberi sarung tangan karet berisi air hangat. Suhunya sudah mencapat 33°C dari suhu normal kucing sekitar 38°. Ternyata keadaan Mallow udah masuk kategori collapse. Dan saya sudah yakin pasti keadaannya tidak akan membaik, didukung oleh pernyataan Mba-mba koas. Akhirnya Mallow disarankan untuk dirawat inap saja, walaupun harapannya tidak besar. Ketika ditanya kira-kira apa sebenarnya penyebabnya tiba-tiba bisa sakit seperti itu, kata Mbanya kemungkinan anemia karena kutunya banyak. Sebenarnya saya kurang yakin penyebabnya cuma itu tapi memang itu yang cukup masuk akal.

Sekitar jam 2 siang, saya dapat telepon dan saya sudah tahu apa yang akan saya dengar. Saya telepon Rifqi setelahnya dan bertanya,"badannya Mallow mau dibawa pulang kapan?"

Rasanya sedih ternyata waktu saya untuk mengenal Marshmallow kurang dari 48 jam, bahkan belum banyak hal yang kami lakukan bersama. Mungkin saya memang belum siap dikasih tanggung jawab peliharaan :" Mudah-mudahan ini yang terbaik buat Mallow.

You'll always be in my hear, my dear.

Friday, February 3, 2017

Target List 2017

Bukan resolusi karena bikinnya bukan di awal tahun :v Ini cuma beberapa hal kecil yang ingin dijadikan komitmen untuk ke depannya, karena merutinkan diri tidak semudah mengucapkannya.

Sebagian jawaban dari pertanyaan pada postingan sebelumnya,
"what would you do if you weren't afraid?"

1. Lari total 10 km per minggu.

2. Baca 20 buku sepanjang tahun.

3. Nulis jurnal perjalanan segera setelah pulang.

4. Meningkatkan kemampuan bahasa asing, harus dibuktikan di akhir tahun.

5. Ngoding tiap hari.

Sekian.
Have a nice weekend everyone!

Saturday, January 21, 2017

Buon viaggio!: Sono a Milano

This was my first ever solo traveling in Europe. This story may have been outdated but still worth to read :D Unfortunately, I lost the pictures on my old phone, so I'm only gonna attach some available pictures.

It was my second visit to Milan after the first touchdown at Malpensa airport on my arrival in Italy (read the story here). October 2015 was the last month of MILANO EXPO 2015. I already had planned to visit it since September but I doubted the cost I would spend on the visit.

I didn't want to miss any lectures, so I planned 3 days trip during weekend. I could spend one day at Expo and 2 days for strolling around Milan. I calculated the expense would be €29 for Expo ticket and around €60 for return ticket if I went by train. Not including the accommodation and food and other expense, well, that's too much. That's why I kept reconsidering the trip.

I told my Italian friend about my plan and he suggested me look for Expo ticket on Groupon because there might be cheaper ticket sold for only around €10 - €20. And he was right. I got a ticket for €20 so I could save €9. Yay! Also, in early October, Flixbus, a German low-cost bus travel, opened their new stop in Trento, and promoted Trento-Milan route for only €1! HAHAHA but I was late to get that promotion but still could get €9 for one-way. Much cheaper than the money I should have spent for train. For the accommodation, thanks to PPI network, I was allowed to stay with Kak Ica and Kak Anin, Indonesian students at Politecnico di Milano. So, I marked October 23 - 25 for this Milano trip!

Saturday, December 31, 2016

Lean In

Saya menutup tahun 2016 dengan menyelesaikan buku berjudul Lean In karya Sheryl Sandberg. Buku tersebut berisi tentang ajakan penulis untuk membentuk dunia kerja yang seimbang antara kontribusi wanita dan pria. Ditulis dengan memaparkan pendapat dan pengalaman penulis dan didukung oleh kisah beberapa orang lain dan riset yang dilakukan penulis, menurut saya buku ini sangat layak dibaca oleh orang yang tertarik untuk mengetahui beberapa permasalahan terkait isu "women in workforce and leadership".

Sebagai seorang perempuan, saya juga mulai memikirkan apakah saya akan bekerja di luar atau di rumah, sejauh apakah karir yang "layak" supaya tanggung jawab di rumah tangga tetap dijalankan, dan sebagainya. Saya belum bekerja, tetapi saya rasa kecenderungan seksisme di dunia kerja, disadari atau tidak, itu benar adanya. Apalagi mengingat bidang saya, computer science, yang masih didominasi oleh laki-laki. Beberapa di antaranya disebutkan di dalam buku tersebut.

Terlepas dari ide feminisme penulis, yang saya suka dari buku ini ialah Sheryl menjelaskan bahwa untuk mewujudkan kesetaraan yang diharapkan, semua orang punya peran untuk dijalankan, baik wanita maupun pria. Dari buku ini saya juga menemukan opsi-opsi baru yang tidak saya pikirkan sebelumnya untuk mengambil keputusan dalam merintis karir dan memilih pasangan hidup :v Menyelesaikan buku ini tepat sebelum tahun baru, sedikit banyak membantu saya menentukan beberapa resolusi untuk tahun 2017, tahun yang saya harapkan sebagai titik awal saya menyandang gelar sarjana. 

What would you do if you weren't afraid?
Quote di atas mungkin akan menjadi motto saya di tahun 2017 :))

Happy New Year!

Friday, December 30, 2016

Note

Setelah sekian lama, akhirnya bisa dapat kesempatan buat pulang untuk rentang waktu yang cukup lama. Kesibukan semester ini yang tidak terlalu sibuk membuat hari-hari di Jogja agak sedikit sepi dan makin pengen pulang. Walaupun skripsi belum selesai, rasanya pulang tetap menjadi opsi terbaik daripada merasa kesepian di Jogja hehehe. Hitung2 ngecas energi.. :)


Note: Foto diambil oleh papa, minggu lalu, kebetulan Bang Yuha lagi ada meeting 3 hari di Medan

Wednesday, October 12, 2016

Random shallow thought

You think you're old enough when you start being attempted to watching parenting activities and addicted to seeing cute kids (yes, they're too cute to be ignored), and you start imagining how your dream house will look like (how to decor it, in particular), where you're gonna spend your whole time with your future family.

Now, back to current time, when you're still struggling with final project for your degree and you realize that you're too broke for your fantasy house. Ha. Just don't get old without money B-) 

#ayonabung #janganmalas #demiharitua #pesanmoral

Sunday, September 25, 2016

Blank paper

pic is taken from here


I have a blank paper.

On which I want to write my journey.

Would you like to write yours on it....with me?

Blank space, Yogyakarta, 25-09-16