Ganti Tahun


  
Saya sadar saya jadi semakin jarang nulis di blog. Niatnya sih pengen upgrade kualitas tulisan yang di-post. Kenyatannya malah nggak nulis apa-apa karena mikir nulis sesuatu yang berbobot harus meluangkan waktu yang cukup dan saya selalu merasa nggak cukup waktu haha. Dasar manusia jaman sekarang, selalu sibuk, ngga punya waktu. Itu saya di 2018.

Karena saya selalu menulis review setahun ke belakang seperti ini setiap tahun di blog ini, saya jadi memutar balik peristiwa yang terjadi selama setahun terakhir. Lucu bagaimana tantangan yang saya hadapi tiap tahun tidak pernah sama. Di 2016 saya punya masalah dalam hubungan dengan teman dekat saya, di 2017 saya sangat emosional masalah perskripsian. Siapa yang tahu tahun depan saya dihadapi tantangan "kapan nikah?" :p

Saya pengen cerita sedikit tentang masalah saya di 2018. Bukan untuk mengeluh. Karena saya sudah menemukan solusinya.

2018 jadi tahun yang berat untuk saya. Lucu karena di satu sisi saya merasa baik-baik saja, di sisi lain saya merasa tidak. Saya hilang motivasi, tidak antusias dengan apa yang saya kerjakan. Saya berpikir jauh ke depan, sebenarnya apa yang saya lakukan setelah menyelesaikan apa yang saya kerjakan saat ini. Yang saya kerjakan, tentu saja sekolah. Bukan berarti saya jadi bolos kuliah dan malah foya-foya. Saya tetap kuliah, nongkrong di perpus sampe malam, ngerjain tugas, dan sebagainya. Tapi tanpa ekspektasi hasil yang ingin saya raih dari aktivitas saya. Alhasil, performa saya nggak maksimal, atau itu yang saya pikir saat itu. Lalu saya marah pada diri saya. Kemudian saya bilang, "nggak apa-apa, besok bisa lebih baik." Besoknya saya masih dalam tanpa gairah. Dampaknya saya mulai menghindari tanggung jawab saya, alias mengerjakan sesuatu di ujung waktu. Dampaknya tentu saja saya keteteran, terlihat sibuk tak punya waktu. Dampaknya lagi tentu saja lagi-lagi hasilnya nggak maksimal.

Saya mulai marah lagi dengan diri saya, kecewa. Dampaknya saya mulai kehilangan kepercayaan diri. Saya menganggap apa pun yang saya lakukan nggak pernah berhasil. Bahkan saya kesal karena saya selalu lari ke halte bus karena selalu keluar kamar sekian menit sebelum bus datang. Yang bikin saya kesal lagi, saya tahu saya punya masalah dan saya tahu solusinya. Kalau mau tugasnya selesai segera ya dikerjakan dari awal, set target. Kalau mau jalan santai ke halte bus ya keluar dari kamar lebih cepat. Lalu kenapa susah? Entahlah. Mungkin saya sudah terlanjur down. Saya jadi merasa bodoh. Saya mulai merasa gelisah dan susah tidur. Gejalanya persis seperti Feedback Loop of Hell yang disebut Mark Manson di bukunya "The Subtle Art of Not Giving a F*ck".

Saya coba self-healing dengan merutinkan menulis 3 hal yang disyukuri setiap hari. Benar ada manfaatnya. Tapi setelah 10 hari saya mulai lupa menulis, cuma menulis 3 kali sehari, lalu seminggu, sebulan, dan nggak sama sekali haha. Memang nggak gampang merutinkan aktivitas ya. 

Pernah saat saya telepon rumah, menanyakan kabar dan sedang sibuk apa, adik saya bilang "Targetku mau gini-gini blabla...", mama saya bilang "Mama mau angsur-angsur kerjain ini itu blabla...". Lalu saya jadi berpikir, semua orang punya goal. Saya juga bisa kan? Note that, saya nggak pernah cerita saya punya masalah ini. Tapi memang saya ditakdirkan mendengar kalimat yang cukup membuat saya lebih positif selama beberapa hari.

Pernah juga saya ditampar kata-kata dari teman saya setelah saya mengeluh kenapa saya udah banyak belajar tapi masih mengerti. Dia bilang, "Ih kamu tuh kaya murid ngajiku yang baru belajar Iqro. Baru belajar bentar, kesulitan dikit, langsung ngambek pengennya langsung bisa. Kata mamanya dia tuh kebanyakan nonton YouTube. Internet cepat, nge-load video ya cepat. Bisa di-skip pula". Oh, gitu ya. Apa saya kurang sabar?

Saya cuma cerita masalah ini ke seorang teman dekat saya. Saya bilang saya nggak mau dengar kalimat menenangkan seperti "Nggak apa-apa, udah berlalu. Besok harus lebih baik.", karena saya udah hapal dengan kalimat itu, yang selalu saya bilang ke diri sendiri. Saya pengen dia marahin saya dan bilang "emang kamu yang salah". Pun akhirnya dia nggak bilang itu. Dia cuma nyuruh saya ngaji. Walaupun sebenarnya saya agak kesal, kok kesannya saya nggak pernah ngaji, tapi saya turuti juga.

Saat itu ketegangan memang lebih kendor karena semester sudah usai. Yang ada tinggal penyesalan dan kekesalan pada diri sendiri. Tapi saya punya waktu untuk berbenah. Saya mengerjakan tugas dengan perlahan, dan bersyukur dengan segala progres yang saya kerjakan. Hidup saya bukan video YouTube. Saya sempatin juga untuk diskusi dengan psikolog di kampus. Saya menyelesaikan 2 buku self-help yang saya pikir relevan dengan masalah saya. Saya berpikir lebih santai. Lama-kelamaan saya lupa saya punya masalah tersebut. Karena saya sendiri yang mendiagnosa saya punya salah, bisa kan kalau saya bilang saya sudah sembuh?

Lalu apa solusinya sebenarnya?

Sebelum saya sadar punya masalah ini, saya terinspirasi dari tulisan seorang mba-mba mahasiswa S3 di London tentang ketakwaan dan kesabaran, bagaimana kita harus memperkuat kesabaran setelah diberi kesabaran. Setelah membaca tulisannya, saya tulis di selembar post-it "Jangan lupa syukur dan sabar" dan saya tempel di dinding di hadapan meja belajar saya, sebagai pengingat. Lucu sekali ya, sekecamuk itu pikiran saya selama berbulan-bulan, padahal jawabannya ada di tulisan yang ada di depan mata saya setiap hari. Saya baca. Dan saya sadar. Tapi saya mungkin lupa minta sama Allah. Saya tempel tulisan itu supaya jadi target saya. Dari masalah ini Allah kasih saya pelajaran untuk menuju target saya itu. Supaya kalau besok saya punya masalah lagi, saya tahu saya harus tetap bersyukur dan bersabar.

Lalu, ada teman saya yang bertanya pada saya, "Mei, gimana sih kamu bisa ngatur waktu belajar dan bisa ngertiin pelajarannya dan dapat nilai bagus?". Dia bertanya begitu karena melihat jadwal pribadi semester sebelumnya yang masih tertempel di dinding kamar dan karena dia tidak melihat saya mengeluh tentang kuliah. Iya, dia nggak tau. dibalik topeng terlihat baik-baik saja, saya mengalami pergulatan batin melawan kenaifan diri sendiri.  Saya jadi sadar, hal seperti ini bisa terjadi sama siapa saja. Orang yang saya lihat baik-baik saja belum tentu baik-baik saja. Mungkin dia juga punya masalah yang serupa. Mungkin dia lupa minta sama Allah.

Saya bukan orang yang suka pamer masalah di muka umum. Tapi saya pikir ada baiknya saya tulis tulisan ini.

----------

Epilog:

Ya Tuhan, memang saya shalat 5 waktu, tapi mungkin pikiran saya nggak khusyu'. Memang mulut saya melantunkan dzikir, tapi hati saya tak menghayati apa yang saya ucapkan. Memang saya bekerja keras, tapi mungkin saya lupa meniatkannya hanya untuk-Mu.



Comments

Popular Posts